Pengejar Surga yang Terlena

pengejar-surga-yang-terlena

oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-

Di dunia ini banyak manusia yang bercita-cita mendapatkan kebahagiaan dan nikmat surga serta terlindungi dari kerasnya siksa neraka. Hanya saja ia tak mempersiapkan bekal menuju kesana. Ia pun lalai dan terlena dalam kesengangan dunia yang menipu dan berhura-hura dalam maksiat, sampai ia dijemput Malaikat Maut.

Seorang ulama tabi’in di zamannya, Harim bin Hayyan Al-Abdiy Al-Bashriy (wafat 46 H) -rahimahullah- berkata,

ما رأيت كالنار نام هاربها، ولا كالجنة نام طالبها

“Aku tak pernah melihat sesuatu seperti neraka; orang yang lari (takut) darinya malah tertidur dan tidak pula sesuatu seperti surga; pencarinya pun tertidur”. [Lihat Tarikh Al-Islam (5/534) oleh Al-Imam Adz-Dzahabiy]

Demikianlah sifat dan kebiasaan orang-orang yang lalai, ia senantiasa terbuai oleh kesenangan dunia yang ia rasakan. Seakan semua hidupnya akan ia lalui tanpa beban dan pengorbanannya. Hidupnya dipenuhi dengan gaya hidup santai, hura-hura, sesuka hati. Sedikit ia merasakan lelah dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, maka ia pun kesal dan berkeluh kesah. Ia menyangka bahwa surga itu digapai dengan angan-angan kosong.

Waktu dan masa sehatnya lebih banyak ia buang dan habiskan dalam perkara-perkara yang melalaikannya dari mengingat Allah serta menjauhkannya dari bersiap bekal menuju kampung hakiki, kampung setiap insan, yaitu akhirat.

Nasib setiap orang disana tergantung perjuangan dan pengorbanannya saat ia di dunia. Jika ia golongan manusia manja, maka ia akan gigit jari dengan penuh penyesalan atas segala kekosongan lembaran amal sholihnya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang tertipu di dalamnya kebanyakan manusia, yaitu : kesehatan dan waktu luang”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6412)]

Inilah dua nikmat yang mayoritas orang telah menghabiskannya dalam perkara yang sia-sia dan tak berguna di akhirat. Bahkan terkadang mereka gunakan dalam perkara yang diharamkan agama!!

Di saat sehat, jasad sehatnya selayaknya ia kerahkan demi mencari ridho Allah, namun ia pakai dalam perkara yang diharamkan. Kita lihat sebagian orang menggunakannya dalam maksiat!! Ada yang lebih gila lagi, mereka yang merusak dan berusaha membasmi kesehatannya dengan mengisap rokok yang mengandung berbagai macam senyawa racun yang dapat mematikan dan merusak fungsi organ tubuh mereka. Tak heran bila mereka disiksa oleh Allah -Azza wa Jalla- dengan berbagai deraan penyakit yang menyusahkan hidupnya.

Sama halnya dengan waktu, ia merupakan termasuk nikmat terbesar yang dianugrahkan oleh Sang Pencipta (Allah) -Azza wa Jalla- bagi manusia. Namun realita menunjukkan bahwa banyak manusia yang menghabiskan umurnya dalam maksiat, seperti: minum khomer, judi, zina dan pacaran, mendengar musik. Padahal semua itu adalah perbuatan-perbuatan maksiat!![1]

Di pinggir-pinggir jalan atau di tempat lain, sering kita menjumpai manusia-manusia sial yang menghabiskan waktunya bermain Domino, Joker, Poker, Ludo, Ular Tangga, game sampai larut malam. Semua ini tentunya adalah perkara terlarang dan tercela dalam agama, karena membuat pelakunya lalai dari mengingat Allah dan menghabiskan waktu dan kesehatan dalam perkara sia-sia dan terlarang.[2]

Sebagian orang lagi menghabiskan waktunya bermain atau nonton televisi atau bermain internet dengan segala macam ucapan yang tak berguna, bahkan nonsense (omong kosong) dan penuh maksiat, seperti yang kita lihat dalam dunia Face Book, Twitter, Black Berry, You Tube dan lainnya.

Pemuda yang gila dan hobi bola, juga tak kalah lalainya. Hari-harinya disibukkan dengan bola, nonton pertandingan, mengikuti siaran sepak bola domestik dan mancanegara, sehingga tak ada waktunya untuk membaca Al-Qur’an, mengikuti majelis taklim, dan berziarah ke rumah kerabat.

Al-Imam Syarofuddin Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata saat menerangkan hadits di atas,

ضرب النبي صلى الله عليه وسلم للمكلف مثلا بالتاجر الذي له رأس مال، فهو يبتغي الربح مع سلامة رأس المال، فطريقه في ذلك أن يتحرى فيمن يعامله ويلزم الصدق والحذق لئلا يغبن، فالصحة والفراغ رأس المال، وينبغي له أن يعامل الله بالإيمان، ومجاهدة النفس وعدو الدين، ليربح خيري الدنيا والآخرة وقريب منه قول الله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} الآيات. وعليه أن يجتنب مطاوعة النفس ومعاملة الشيطان لئلا يضيع رأس ماله مع الربح.

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membuat perumpamaan bagi seorang mukallaf, seperti seorang pedagang yang memiliki modal pokok. Si pedagang mencari keuntungan di samping selamatnya modal pokok. Caranya dalam hal itu, ia memilih orang ia ajak bermuamalah, melazimi kejujuran dan kemahiran (dalam jual-belinya) agar ia tak tertipu. Jadi, kesehatan dan waktu lowong adalah modal pokok. Selayaknya, seorang hamba bermuamalah bersama Allah dengan iman, menghadapi jiwa dan musuh agama, agar ia kelak meraih keuntungan dunia dan akhirat.. Ia harus menjauh dari menuruti hawa nafsunya, dan dari bermuamalah dengan setan agar modal pokoknya tidak hilang bersama keuntungannya”. [Lihat Fathul Bari (11/230) oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar, cet. Dar Al-Fikr]

Seorang manusia tak akan paham tentang arti penting sebuah nikmat, kecuali setelah ia sirna dan pergi meninggalkannya. Adapun orang-orang yang cerdik, ia akan senantiasa mengumpulkan berbagai macam amal sholih di hari-harinya. Ia tahu bahwa hari-hari di dunia ia gunakan untuk memperbanyak tabungan berupa amal sholih sebelum ia menjumpai masa-masa sulit!!

Seorang ulama tabi’in yang tsiqoh, Al-Mundzir bin Malik Abu Nadhroh Al-Abdiy Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,

كنا نتواعظ في أول الاسلام بأربع : اعمل في فراغك لشغلك، واعمل في صحتك لسقمك، واعمل في شبابك لهرمك، واعمل في حياتك لموتك

“Dahulu kami saling menasihati di awal Islam dengan tentang empat perkara : Beramalllah di waktu senggangmu untuk (menghadapi) waktu sibukmu, beramallah di masa sehatmu untuk (menghadapi) masa sakitmu, beramallah di masa mudamu untuk (menghadapi) masa tuamu dan beramallah di masa hidupmu untuk (menghadapi) masa kematianmu”. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/97)]

Kelalaian dan keterlenaan dengan indahnya pemandangan dan kenikmatan dunia akan membawa sengsara. Harta benda dan kenikmatan duniawi lainnya tak akan membawa kebahagiaan hakiki di akhirat nanti, bila pemiliknya tak menggunakanya dalam kebaikan, ibadah dan ketaatan!! Seorang yang jenius akan mempersiapkan bekal amal shalih sebanyak mungkin. Sebab ia tahu bahwa perjalanan ukhrawi penuh dengan onak dan duri yang akan siap melukai dan mencelakakan dirinya bila ia tak memiliki bekal dan pelindung dalam menghadapinya berupa amal-amal shalih yang ikhlash.

Al-Imam Ibnul Jawziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,

مَنْ تَفَكَّرَ فِيْ عَوَاقِبِ الدُّنْيَا، أَخَذَ الْحَذَرَ، وَمَنْ أَيْقَنَ بِطُوْلِ الطَّرِيْقِ، تَأَهَّبَ لِلسَّفَرِ

“Barangsiapa yang merenung tentang kesudahan dari dunia ini, maka ia akan berhati-hati. Barangsiapa yang meyakini panjangnya perjalanan (menuju Allah), maka ia akan melakukan persiapan untuk safar (perjalanan panjang)”. [Lihat Shoidul Khothir (1/26), cet. Dar Al-Qolam, 1425 H]

Pencari kebaikan harus selalu sadar bahwa kesenangan surga tak akan dipetik, tanpa usaha dan perjuangan yang dihiasi dengan kesabaran. Adapun bermalas-malasan dalam hal itu, maka jangan ia mencela, kecuali dirinya sendiri. Sebaliknya, ia paham benar bahwa neraka tak akan jauh darinya, selain ia memperbanyak amal shalihnya dan membersihkan diri dari maksiat dan kedurhakaan kepada Allah -Azza wa Jalla-.



[1] Haramnya perkara-perkara ini anda bisa baca dalam artikel lain di : http://pesantren-alihsan.org/saatnya-matiin-musik-lho.html  atau http://pesantren-alihsan.org/wajah-buruk-perjudian-2.html

[2] Adapun larangan perkara-perkara itu silakan lihat dan baca dalam artikel yang telah kami posting di : http://pesantren-alihsan.org/hukum-bermain-catur-dan-ludo.html

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *